48 jam Memasuki 1/4 Abad Menghirup O² di Bumi ini

Untuk Memaknai Ulang Tahun, Investigasi: Rambut Putih
Semua orang pasti berulang tahun.
Saya Kurang menikmati setiap kali ada yang menyiramkan air atau melemparkan telur busuk kearah saya. ;( Ada yang lebih ganas dari itu. Tapi bisa juga lebih bermakna indah dari sekedar keganasan semakin tua...
Gosh, beside, we're all having our birthday!
Entah kenapa, baru saja saya sadari, saya begitu jatuh cinta dengan rambut putih, tapi bukan karena warnanya, sebab saya paham sekali saya tidak suka warna putih. Yang alami karena semakin tua, bukan buatan. Beberapa waktu lalu berjalan-jalan di sebuah kampung disebuah dusun kaki gunung melihat nenek tua kempot, dengan rambut panjang dan putihnya, nyaris perlahan menyisiri rambutnya, membuat saya begitu: stunning, diam terpaku dalam senyum. Nampak elegan dan cantik sekali, gaya beliau menyisiri rambutnya secara perlahan, mirip seorang ratu kerajaannya sendiri! :)
Saya tidak pernah tertarik dengan penjelasan ilmiah, yang dikatakan bahwa rambut putih terjadi karena semakin menipiskan pigmen pewarna rambut untuk mensuplai helai rambut, seiring dengan bertambahnya usia. Kadang, ada makna lain yang justru dihilangkan. Saya tidak pernah puas dengan jawaban ilmiah. Tanpa bermaksud sembrono, saya kadang justru berfikir, that we are playing God while doing such scientific things, meanwhile on some occasions the science itself, kill the Heavenly-Lord. ;( Ndak heran, banyak juga ilmuwan-ilmuwan yang skeptis, karena dia merasa dialah Tuhan yang mampu menjelaskan semua hal, padahal, baru seberapa coba? ;( Yach, memang tidak semua, itu benar, tapi yang benar-benar freak, lihat saja: skeptis. Disatu sisi, kadang lewat science pula, kita bisa menapak-tilasi dan mendekatkan kita pada Tuhan. Itu juga tidak bisa disangkal
Kembali pada rambut putih dan lepas dari sains, ada yang begitu membuat saya jatuh cinta. Rambut pada dasarnya berwarna dasar: gelap (hitam, merah, blonde, etc.). Contoh sederhananya, orang asia, dengan rambut hitamnya, semakin menua perjalanan hidupnya, semakin putih pulalah rambutnya (asal tidak disemir). Seiring dengan \"penjara tubuh\" yang harus dituaikan dalam mengukir sejarah hidupnya, maka semakin putih pulalah rambutnya.
Bahwa rambut putih, bagi saya adalah sebuah pesona elegan yang memaknakan pada: KEMATANGAN, KEDEWASAAN, DAN SEJARAH MUASAL KEHIDUPAN ITU SENDIRI. Sebuah takdir bahwa yang putih harus dihitamkan, dan yang hitam harus diputihkan, mirip sebuah lingkaran keseimbangan. Bagi saya, rambut putih dapat digunakan sebagai pengukur seberapa matang orang telah berjalan didunia ini. Wujud parameter nyata, mirip kertas lakmus yang digunakan untuk mengetahui pH suatu fluida. Sedangkan rambut, mirip juga sama kertas lakmus tersebut, hanya dia mirip dengan mengetahui pH -> keasaman suatu kehidupan manusia. Rambut putih, bagi saya, kelihatan sexy sekali... :) Yap, nenek tua kempot itu, kelihatan begitu elegan dan sexy sekali dengan umur dan rambut putihnya. Eleganitas hidup suatu kehidupan manusia, bentuk ukuran dan parameter dari lamanya kita hidup sebagai seorang manusia
Saya tersenyum dalam damai, melunglaikan tubuh, menyungkurkannya diatas kasur tempat tidur, saya kemudian berbisik sendiri \"Suatu saat, semoga bila direstui-Nya umur panjang, rambut sayapun semoga akan semakin memutih, menerimanya sebagai sebuah kebahagiaan\"
can't hardly wait! It looks so gorgeous! ;D
saya sadar menjadi semakin tua--dan kedewasaan semakin \"mahal\" untuk \"dibeli\", sementara, dengan bertambahnya umur, tidak menjamin akan semakin mendewasakan saya. Jujur, sebenarnya saya tidak menikmatinya (menjadi tua tanpa menjadi semakin dewasa), ada ribuan kesalahan yang ingin saya perbaiki dalam waktu yang tersisa ini.
I hate every 24 hours I have, it ain't enough! Protest! :)
Comments